Senin, 05 Juli 2010

*Pelarian Terakhir* (cerpen)

Senja ini semakin hilang dari dasar mata, senja mulai menghatarkan rembulan kepada tempatnya, tak pernah lelah selalu seperti itu setiap masa. Perputaran masa selalu membawa kita pada sebuah perubahan, entah putih, entah hitam atau bahkan abu-abu, kita tak pernah tau.

Sebut saja Latif pria kurus bermata cekung dengan berbagai atribut pada baju yang dikenakannya, Mona dengan kemolekan tubuhnya yang sungguh membuat semua pria merasa berada pada ujung makna yang tak pernah bersinergi antara harapan dan kenyataan.

Malam itu Latif ingin sekali rasanya keluar dari kota yang setiap malam selalu sepi, hampir tanpa kehidupan. Dengan atribut lengkap dia kendarai motor kesayangannya yang di belinya dari seseorang yang kalah judi dan di jual cepat tepat sebulan yang lalu, selalu tampak gagah kalau dia di atas motor itu.

Gundah gulana hati Latif malam itu, dimana tepat sore tadi didapatinya seorang yang dia cintai dengan orang lain, begitu mesra bahkan terlalu vulgar. Tapi dikarenakan cinta yang begitu dalam, tak tersirat di benaknya untuk berbuat anarkis. Pikirnya panjang , dia terus melihat flashback pada kejadian sore tadi. Motor dibawanya melaju lebih cepat berharap meninggalkan kota itu secepatnya, kota yang penuh suka dan lebih banyak luka.
***
Mona wanita perkasa yang terpaksa menjajakan dirinya kepada pria hidung belang di sebuah kota, Mona begitu ayu, begitu manis dan begitu bersahaja. Tetapi sayang dia tak lebih dari seorang Wanita penghibur. Rutinitasnya tak pernah berubah setiap hari selalu seperti itu, itu dan itu terkecuali disaat dia datang bulan, selebihnya sama, tak pernah berubah hampir lebih 3 tahun belakangan ini.

Jauh didalam relung hati Mona selalu menangis dan terperih. Mona selalu ingin keluar dari kehidupannya hitam ini, penuh dosa. Dia lelah selalu mendapat gelar wanita penhancur rumah tangga orang, wanita penghibur, dan terlebih wanita murahan.

Sebelum beraktivitas Mona selalu menyediri dan menangis berat kakinya untuk dilangkahkan, tetapi apa boleh buat semua itu harus dilakukannya. Kalau tidak siapa yang akan membayar Rumah Sakit Ibunya yang sudah hampir 3 tahun menderita sakit, terlebih 12 hari terakhir Ibunya sedang berjuang menghadapi koma. Disana ada kedua adiknya yang selalu menjaga sang Ibu, jauh di Kota sana. Semakin terperih hati Mona, terlebih-lebih kedua adiknya hanya berjarak 3 tahun antara keduanya yang secara tidak langsung membuat tahun-tahun ini berat tuk Mona lewati bersama keluarganya, si tengah mau masuk SMA dan sedangkan Si bungsu mau masuk SMP benar-benar dilema besar sedang Mona hadapi.

2 hari lalu Mona baru pulang dari kotanya setelah 1 Minggu disana, hanya seminggu dia bisa kesan menjaga Ibunya, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Ingin rasanya dia tetap berada disana menemani Ibu tetapi tak bisa karena biaya Rumah Sakit harus dia cari sebelum dia berangkat ke Kota dia "bekerja" tertulis dalam sebuah dalam nota Rp. 4.700.000 biaya selama 10 hari Ibu dirawat disana. Semua demi hidup Ibu, semua demi kasih sayang Ibu.
***
Latif menambah kecepatan motornya hampir 100 Km/jam, teramat kencang bagi Latif yang sedang terguncang. Sedangkan Mona berdiri manis disudut jalan perbatasan kota menunggu "pelanggan", malam itu Mona lain dari hari kemarin dia sangat elegan dengan busana yang dipakainya ditambah dengan sunpipit yang merekah disebelah bibirnya tak ayal bertambah manislah dia.

Tepat sebelum belokan Latif menambah kecepatan dan berniat melampaui mobil yang ada didepannya, berhasil satu mobil mampu dilewatinya, tetapi tanpa diduga sebuah motor dari arah lain entah kapan datangnya hampir saja menabraknya dengan kecepatan 80 Km/jam kewalahan Latif menghadapi dan mengontrol motornya tersebut dan "cittt, brak" Latif menabrak sesuatu dan Latif jatuh terpental jauh dari motornya begitu cepat kejadian tersebut sebelum orang-orang disekitarnya sadar, Latif telah berada di dalam mobil yang pada awalnya melewati kaca depan mobil tersebut yang telah di pecah karena ditabrak kepalanya. "brak" sesaat kemudian Latif terkulai lemas, darah keluar mengalir dari berbagai tempat ditubuhnya.

Latif menerawang jauh seblum kejadian tersebut, motor, mobil dan tikungan, malam ketika awal Latif berangkat dan senja ketika hatinya hancur lebur. Sesaat hilang matanya buram dan nafasnya mulai kacau, dalam hitungan menit semua selesai, pelarian Latif malam tadi sukses besar bahkan melebihi sukses bukan hanya dari kota kelahirannya Latif berhasil menjauh tetapi dari dunia ini. Selesai dalam beberapa menit saja.

Sementara benda yang tertabrak Latif sebelum dia terpental sudah tak bergerak lagi, ya tepatnya bukan benda mati tetapi mahluk hidup dia bernafas, dia ayu, dia elegan dan dia teramat manis dengan sunpipit disebelah bibirnya. kini keayuan, keleganan, kemanisan dengan sunpipit disebelah bibirnya lenyap dikarenakan kepalanya terbentur keras dinding jalan dan terseret di aspal hitam yang kini bercak merah kulitnya terkelupak dan darah deras mengalir tak berhenti beberapa saat kemudian berhenti bergerak dan tamat.

Mona si ayu, elegan, manis beserta sunpipit disebelah bibir menjadi korban ke-2 pada malam itu, tepatnya korban pelarian Latif. Kini bertambah luka dan duka bagi keluarga Mona entah saipa yang akan membayar biaya Rumah Sakit Ibunya, dan entah siapa yang dapat membiayai pendidikan adiknya, entah.

Persembahanku untuk semua orang yang tak pernah berlari dari hidup, selalu menghadapinya dengan gagah berani dan selalu bertanggung jawab atas kehidupannya.
Ade Rachmat Fikri
Disudut Kota Padang tercinta.
02.54 W.I.B 26 Mei 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar